Kuncijawabannya adalah: C. Membuang data. Dilansir dari Ensiklopedia, Berikut prinsip-prinsip dasar dalam statistik, kecualiberikut prinsip-prinsip dasar dalam statistik, kecuali Membuang data.
DalamMengungkapkan Suatu TP, Ketua Tim Harus Memperhatikan Beberapa Prinsip Yang Harus Dipenuhi Antara Lain, Kecuali? - 27, 2022 November 6, 2021 by admin
Dilansirdari Ensiklopedia, dalam mengungkapkan suatu temuan pemeriksaan, ketua tim harus memperhatikan beberapa prinsip yang harus dipenuhi, kecuali Prinsip independen. Pembahasan dan Penjelasan Menurut saya jawaban A. Prinsip independen adalah jawaban yang paling benar, bisa dibuktikan dari buku bacaan dan informasi yang ada di google.
DalamMengungkapkan Suatu TP, Ketua Tim Harus Memperhatikan Beberapa Prinsip Yang Harus Dipenuhi Antara Lain, Kecuali? - 27, 2022 November 5, 2021 by admin
TujuanPemberdayaan Masyarakat. Menurut Mardikanto dalam Dedeh Maryani dan Ruth Roselin E. Nainggolan (2019: 8-10), tujuan dari pemberdayaan masyarakat yaitu: 1. Perbaikan kelembagaan (Better institution) Dengan memperbaiki kegiatan yang dilakukan, diharapkan dapat memperbaiki kelembagaan.
Dalamsebuah tim, kita dilarang untuk bersifat individualistis (mementingkan diri sendiri) atau egoisme. Sedangkan pilihan A, C, D, dan E merupakan hal yang harus ada dalam sebuah tim. Sekian tanya-jawab mengenai Berikut prinsip prinsip yang harus dipegang dalam sebuah tim, kecuali a.
.
Ilustrasi Etika Profesi. Foto PexelsApa itu etika profesi? Seorang pekerja tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas, tapi juga harus menjunjung etika profesi dalam segala aktivitasnya. Etika yang dimaksud adalah nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok masyarakat dalam mengatur Etika ProfesiBeberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai definisi etika profesi. Menurut Muchtar 2016, etika profesi merupakan aturan perilaku yang memiliki kekuatan mengikat bagi setiap pemegang itu, Lubis 1994 berpendapat etika profesi merupakan sikap hidup berupa kesediaan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan keterlibatan penuh dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa etika profesi bertujuan agar setiap orang tetap berada dalam nilai-nilai profesional, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi profesi yang Etika Profesi. Foto PexelsPrinsip-prinsip Etika ProfesiTerdapat empat prinsip utama yang melandasi pelaksanaan etika profesi, yaituTanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan, baik yang disengaja atau tidak disengaja. Semua tenaga kerja profesional harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan dan tanggung jawab ini dapat ditunjukkan dengan upaya untuk menyelesaikan tugas sebaik mungkin agar meraih hasil yang maksimal. Contohnya yakni seorang dokter memberikan pelayanan sesuai dengan standar prosedur operasional dan kebutuhan medis artinya tidak berat sebelah, berpihak kepada yang benar, dan tidak sewenang-wenang. Seorang profesional harus selalu mengedepankan nilai ini dalam yang dilakukan harus adil dan pelayanan diberikan pada siapa pun yang berhak menerimanya. Apalagi jika profesinya menyangkut pelayanan masyarakat seperti polisi, petugas kesehatan, dan dalam dunia kerja memiliki wewenang dan kebebasan yang dijalankan sesuai kode etik yang berlaku. Dengan cara ini setiap tugas akan dapat diselesaikan dengan moral adalah kualitas kejujuran serta prinsip moral dalam diri seseorang yang harus dilakukan secara konsisten dalam menjalankan profesinya. Sebagai profesional, seseorang harus senantiasa menjaga kepentingan profesi, diri sendiri, serta memikirkan kepentingan Etika ProfesiEtika profesi penting dalam organisasi karena memiliki berbagai fungsi. Fungsi-fungsi etika profesi yaituSebagai pedoman bagi semua anggota profesi mengenai prinsip profesionalitas yang alat kontrol sosial bagi masyarakat umum terhadap profesi sarana untuk mencegah campur tangan dari pihak lain di luar organisasi, terkait hubungan etika dalam keanggotaan suatu Etika ProfesiEtika profesi tentu ada dalam setiap bidang profesi. Sebagai contoh seorang dokter tentu memiliki etika profesi yang harus diterapkan dan dijadikan pedoman untuk menjaga profesionalitas mereka. Berikut merupakan contoh etika profesi seorang memberikan pelayanan medis yang sesuai dengan standar prosedur operasional dan sesuai dengan kebutuhan medis memberikan rujukan bagi pasien rumah sakit ke rumah sakit lain di mana rumah sakit lain itu lebih ahli dalam bidangnya jika memang menjaga rahasia sang pasien bahkan itu jika pasien tersebut meninggal pertolongan darurat dengan dasar sikap kemanusiaan kecuali ada pihak lain yang bertugas dan mampu melakukan tugas meningkatkan ilmu pengetahuan di bidang mengetahui kewajiban seorang dokter selanjutnya yaitu larangan yang tidak boleh dilakukan seorang dokter. Menjadi dokter tidak berarti ia bisa melakukan apa saja kepada pasiennya. Untuk itu, berikut larangan seorang dokter dalam bekerjaMemuji kemampuan dan keahlian diri boleh mengucapkan atau melakukan tindakan yang dapat melemahkan daya tahan melarang dokter untuk melakukan teknik kedokteran yang belum diuji kemandirian profesinya karena pengaruh boleh berani mengambil alih tindakan untuk pasien tanpa adanya persetujuan dari keluarga boleh menetapkan imbalan atas jasanya dengan tidak tidak boleh melakukan diskriminasi dalam melakukan tidak boleh melakukan kolusi dengan perusahaan farmasi mana dokter tidak mengabaikan kesehatannya sangat dilarang mengeluarkan surat keterangan palsu walau atas dasar permintaan tidak boleh melakukan pelecehan seksual terhadap boleh membocorkan rahasia pasien kepada orang saja prinsip etika profesi? Apa tujuan etika profesi? Apa itu integritas moral dalam etika profesi?
Curriculum development is an important thing to do. In Indonesia, there have been ten curriculum changes that have started from the 1947 Curriculum to the present, the 2013 Curriculum. In fact, the curriculum changes show that the principles of education must be able to adjust the development of the times without leaving the cultural values of the relevant community. The purpose of this research is to find out the principles in curriculum development. This research uses library research method. The results of this study indicate that curriculum development resources, including; empirical data, experimental data, folklore and general public knowledge. The principles in curriculum development are divided into two things 1. General Principles, which include; the principle of relevance, the principle of flexibility, the principle of continuity, the practical principle, and the principle of effectiveness, 2. Special Principles, which include; principles for determining educational objectives, principles for selecting educational content, principles for selecting teaching and learning processes, principles for selecting media and teaching tools, and principles relating to assessment. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free PALAPA Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan Volume 8, Nomor 1, Mei 2020; p-ISSN 2338-2325; e-ISSN 2540-9697; 42-55 PRINSIP-PRINSIP DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ariefrahman163 , tasmanhamami61 Abstract Curriculum development is an important thing to do. In Indonesia, there have been ten curriculum changes that have started from the 1947 Curriculum to the present, the 2013 Curriculum. In fact, the curriculum changes show that the principles of education must be able to adjust the development of the times without leaving the cultural values of the relevant community. The purpose of this research is to find out the principles in curriculum development. This research uses library research method. The results of this study indicate that curriculum development resources, including; empirical data, experimental data, folklore and general public knowledge. The principles in curriculum development are divided into two things 1. General Principles, which include; the principle of relevance, the principle of flexibility, the principle of continuity, the practical principle, and the principle of effectiveness, 2. Special Principles, which include; principles for determining educational objectives, principles for selecting educational content, principles for selecting teaching and learning processes, principles for selecting media and teaching tools, and principles relating to assessment. Keywords Curriculum Development, Development Principles, Education in Indonesia Abstrak Pengembangan kurikulum merupakan salah satu hal yang penting dilakukan. Di Indonesia, terhitung telah terjadi sepuluh kali pergantian kurikulum yang dimulai dari Kurikulum 1947 hingga sekarang ini, Kurikulum 2013. Sejatinya, perubahan kurikulum tersebut menunjukkan bahwa prinsip dari pendidikan haruslah dapat menyesuaikan perkembangan zaman dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya masyarakat yang relevan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka library research. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sumber-sumber pengembangan kurikulum, meliputi; data empiris, data eksperimen, cerita rakyat dan pengetahuan umum masyarakat. Adapun prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum terbagi atas dua hal 1. Prinsip Umum, yang meliputi; prinsip relevansi, prinsip fleksibilitas, prinsip kontinuitas, prinsip praktis, dan prinsip efektivitas, 2. Prinsip Khusus, yang meliputi; prinsip penentuan tujuan pendidikan, prinsip pemilihan isi pendidikan, prinsip pemilihan proses belajar mengajar, prinsip pemilihan media dan alat pengajaran, dan prinsip yang berkenaan dengan penilaian. Kata Kunci Pengembangan Kurikulum, Prinsip Pengembangan, Pendidikan di Indonesia Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami Volume 8, Nomor 1, Mei 2020 PENDAHULUAN Salah satu aspek yang berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan pendidikan nasional adalah aspek kurikulum. Keberadaan kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran strategis dalam sistem Oemar Hamalik,setidaknya terdapat tiga peranan strategis yang diemban oleh kurikulum dalam dunia pendidikan; pertama, peranan konservatif. Peran konservatif kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa lalu. Dikaitkan dengan era globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memungkinkan mudahnya pengaruh budaya asing menggerogoti budaya lokal, maka peran konservatif dalam kurikulum memiliki arti yang sangat penting. Melalui peran konservatifnya, kurikulum berperan dalam menangkal berbagai pengaruh yang dapat merusak nilai-nilai luhur masyarakat, sehingga identitas masyarakat akan tetap terpelihara dengan baik. Kedua, peranan kritis. Tidak setiap nilai dan budaya lama harus tetap dipertahankan, sebab kadang-kadang nilai dan budaya lama itu sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat; demikian juga ada kalanya nilai dan budaya baru itu juga tidak sesuai dengan nilai-nilai lama yang masih relevan dengan keadaan dan tuntutan zaman. Di sini, kurikukum berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang dianggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik. Ketiga, peranan kreatif. Kurikulum harus mampu menjawab setiap tantangan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang cepat berubah. Dalam peran kreatifnya, kurikulum harus mengandung hal-hal baru sehingga dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap potensi yang dimilikinya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat yang senantiasa bergerak maju secara dinamis. Dalam proses pengembangan kurikulum, ketiga peran di atas harus berjalan secara seimbang. Kurikulum yang terlalu menonjolkan peran konservatifnya cenderung akan membuat pendidikan ketinggalan oleh kemajuan zaman; sebaliknya kurikulum yang terlalu menonjolkan peran kreatifnya dapat membuat hilangnya nilai-nilai budaya masyarakat. Khususnya di Indonesia, pengembangan kurikulum Rusman, Manajemen Kurikulum Jakarta Rajawali Press, 2009, 1. Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum Bandung Remaja Rosdakarya, 2008, 11–12. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami PALAPA Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan dimaksudkan agar pendidikan dapat menyesuaikan perkembangan zaman dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya masyarakat yang luhur. Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup banyak mengalami perubahan dan pengembangan kurikulum. Terhitung, pemerintah pernah menjalankan pergantian kurikulum sebanyak sepuluh kali, dimulai dari kurikulum 1947, kurikulum 1952, kurikulum 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984 kurikulum CBSA, kurikulum 1994, kurikulum 2004 KBK, kurikulum 2006 KTSP, hingga kurikulum tetapi, berdasarkan hasil survei terbaru oleh Programme for International Student Assessment PISA yang dirilis pada Desember 2019, menempatkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 77 negara. Data ini menjadikan Indonesia bercokol di peringkat enam terbawah, masih jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Survei PISA merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia berdasarkan kemampuan membaca, matematika dan di atas bukan merupakan sesuatu hal yang aneh dan mengejutkan. Pendapat ini didukung oleh Hamzah yang menyatakan bahwa kurikulum yang ada pada pendidikan sekolah masih mengalami stagnasi, statis, dan berorientasi pada materialis. Stagnasi terlihat dari adopsi dan replikasi kurikulum pendidikan sekolah. Nuansa hegemoni pada dunia pendidikan sekolah terasa mengental, bahkan menuju ke arah status quo kurikulum sekolah. Adanya hegemoni tersebut membuat pola pikir dan arah nalar para pendidik dan peserta didik terpasung dalam pendidikan yang menjerumuskan bukannya pendidikan yang demikian, pengembangan kurikulum menjadi sebuah keharusan dan berlaku sepanjang hidup. Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum harus mampu dievaluasi dan diterapkan sebagai usaha pembenahan guna mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang telah dicita-citakan bersama. Fitri Wahyuni, “KURIKULUM DARI MASA KE MASA Telaah Atas Pentahapan Kurikulum Pendidikan Di Indonesia Al-Adabiya Jurnal Kebudayaan Dan Keagamaan,” accessed April 15, 2020, Pandasurya Wijaya, “Survei Pendidikan Dunia, Indonesia Masuk 10 Terbawah Dari 79 Negara,” accessed March 3, 2020, A. Hamzah, Model Pengembangan Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Berbasis Mentalitas Bangkalan Universitas Trunojoyo Press, 2007, 45. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami Volume 8, Nomor 1, Mei 2020 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka atau library research. Dalam penelitian kepustakaan ini dilakukan proses mengumpulkan, menganalisis, mengolah dan menyajikan buku, jurnal dan teks-teks yang berhubungan dengan tema penelitian sebagai bahan referensi dalam bentuk laporan kepustakaan. Data yang telah dikumpulkan, kemudian dianalisis menggunakan metode content analysis. Tahapan dalam metode ini antara lain reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan beberapa referensi primer dalam penelitian kepustakaan ini ialah; 1 Buku Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, karya N. S. Sukmadinata, 2 Buku Manajemen Pengembangan Kurikulum, karya Oemar Hamalik, 3 Buku Kurikulum dan Pengajaran, karya S. Nasution, 4 Buku Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, karya Zainal Arifin, serta 5 Buku Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan, karya Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi Pengembangan Kurikulum Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Jadi, istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai finish. Dalam bahasa Arab, kata kurikulum yang biasa digunakan adalah manhaj, yang berarti jalan terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang definisi menurut istilah, sebagaimana dikemukakan oleh S. Nasution ialah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan Jakarta Yayasan Obor Indonesia, 2008, 1–2. Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif Bandung Alfabeta, 2009, 92. Hasan Langgulung, Manusia Dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Dan Pendidikan Jakarta Pustaka al-Husna, 1986, 176. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami PALAPA Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan menurut Zaenal Arifin, kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan jenjang rangka mencapai tujuan pendidikan, kurikulum tidaklah bersifat statis. Kurikulum dapat diubah maupun dimodifikasi secara dinamis mengikuti arah perkembangan zaman. Proses mengubah dan memodifikasi ini dinamakan proses pengembangan. Dalam kajian ini dipahami bahwa kegiatan pengembangan adalah penyusunan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaaan kurikulum. Istilah pengembangan menunjukkan pada suatu kegiatan menghasilkan suatu alat atau cara yang baru. Selama kegiatan tersebut, penilaian dan penyempurnaan terhadap alat atau cara tersebut terus dilakukan. Apabila setelah mengalami penyempurnaan-penyempurnaan, akhirnya alat atau cara tersebut dipandang cukup mantap untuk digunakan seterusnya, maka berakhirlah kegiatan pengembangan kurikulum oleh Oemar Hamalik, didefinisikan sebagai perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah perubahan- perubahan yang diinginkan dan menilai sampai di mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri Dakir menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum ialah proses mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dari dalam sendiri, dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan pengembangan kurikulum sebagaimana disebut di atas mencakup dimensi yang luas. Pengembangan kurikulum merupakan istilah yang komprehensif, yang meliputi perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Perencanaan kurikulum yaitu langkah terdepan dalam membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan rencana yang akan dipakai oleh guru dan siswa. Penerapan kurikulum atau yang biasa disebut implementasi S. Nasution, Kurikulum Dan Pengajaran Jakarta Rineka Cipta, 1989, 5. Zainal Arifin, Konsep Dan Model Pengembangan Kurikulum Bandung Remaja Rosdakarya, 2015, 1. Syafaruddin and Amiruddin, Manajemen Kurikulum Medan Perdana Publishing, 2017, 130–31. Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, 97. Dakir, Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum Jakarta Bumi Aksara, 2010, 91. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami Volume 8, Nomor 1, Mei 2020 kurikulum berupaya memindahkan perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum adalah tahap akhir pengembangan kurikulum untuk melihat sejauh mana hasil pembelajaran, tingkat pencapaian program yang direncanakan, dan hasil dari kurikulum tersebut. Pengembangan kurikulum bukan hanya melibatkan orang-orang yang berhubungan langsung dengan dunia pendidikan, tetapi juga melibatkan banyak individu, seperti politisi, wirausahawan, orang tua siswa, dan elemen masyarakat lainnya yang merasa tertarik dengan pendidikan. Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada intinya adalah aturan atau undang-undang yang akan menginspirasi pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan kurikulum adalah proses memaksimalkan pelaksanaan kurikulum dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan sebagaimana dalam kurikulum yang ditetapkan pemerintah setelah dilaksanakan dalam waktu tertentu. Biasanya pengembangan kurikulum ini adalah proses pembaruan kurikulum setelah dilakukan evaluasi kurikulum setelah dilaksanakan, bisa saja dilakukan atas kebijakan pemerintah dan juga dapat dilakukan oleh pihak sekolah bersama dengan guru dalam mendukung optimalisasi pelaksanaan kurikulum pendidikan di sekolah dan luar sekolah terhadap perkembangan anak didik. Sumber-sumber Prinsip Pengembangan Kurikulum Dalam kajian tentang sumber-sumber prinsip pengembangan kurikulum, Peter F. Oliva mengemukakan bahwa pada prinsip pengembangan kurikulum paling tidak ada 4 empat sumber yang menjadi acuan sebuah pengembangan kurikulum yaitu data empiris empirical data, data hasil penelitian experimental data, kisah rakyat folkfore curriculum yang menyangkut tentang keyakinan masyarakat dan nilai-nilai yang ada di dalamnya, serta pemahaman bersama atau pengertian umum yang ada dalam suatu masyarakat common sense.Mustofa Kamal, “Model Pengembangan Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Berbasis Sosiologi Kritis, Kreativitas Dan Mentalitas,” Madaniyah 4, no. 2 2014 230–31. Peter F Oliva, Developing The Curriculum, III United States Harper Collins Publishers, 1992, 28. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami PALAPA Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan Berdasarkan sumber-sumber pengembangan yang dikemukakan Oliva tersebut, dapat dikategorikan bahwa hanya ada 2 dua sumber yang menjadi prinsip pengembangan kurikulum yaitu sumber ilmiah dan sumber non ilmiah. Sumber ilmiah didapat dari data-data dari kegiatan yang bersifat ilmiah seperti halnya penelitian, data-data empiris tentang kelemahan dan kekurangan kurikulum sebelumnya, informasi faktual dan sebagainya. Sedangkan sumber non ilmiah didapat dari hal-hal yang bersifat non ilmiah seperti cerita rakyat, legenda, mitos dan sebagainya yang telah menjadi keyakinan umum oleh suatu masyarakat dan memiliki nilai-nilai tertentu di dalamnya. Sedangkan menurut Sukmadinata dalam bukunya Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktekmenyebutkan beberapa sumber pengembangan kurikulum diantaranya ialah dan pekerjaan orang dewasa, di mana isi kurikulum disesuaikan sebagai persiapan anak untuk menjalani kehidupan dan pekerjaan orang dewasa. masyarakat, termasuk di dalamnya semua disiplin ilmu yang ada sebagai pengetahuan ilmiah, nilai-nilai, perilaku, benda material dan unsur kebudayaan lainnya. sebagai pusat atau sumber kegiatan pembelajaran. Perhatian dalam menyusun pengembangan kurikulum bukan sesuatu yang akan diberikan pada anak tapi bagaimana potensi yang ada pada anak dapat dikembangkan secara optimal. penyusunan kurikulum sebelumnya, baik sesuatu yang negatif maupun hasil evaluasi positif atas pelaksanaan kurikulum sebelumnya. nilai di masyarakat, termasuk nilai-nilai apa saja yang akan diajarkan di sekolah atau dalam pelaksanaan kurikulum. N. S. Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek Bandung Remaja Rosdakarya, 2004, 33. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami Volume 8, Nomor 1, Mei 2020 sosial-politik tertentu termasuk lembaga, arah kebijakan dan produk- produk politik berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum Pengembangan kurikulum menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di lembaga pendidikan sangat dimungkinkan untuk menggunakan prinsip yang berbeda dari kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lain, sehingga akan ada banyak prinsip yang digunakan dalam pengembangan sebagaimana dikutip oleh Syafaruddin dan Amiruddin menyebutkan delapan prinsip dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip tersebut antara lain; prinsip berorientasi pada tujuan, relevansi, efisiensi, fleksibilitas, kontinuitas, keseimbangan, keterpaduan, dan Sukmadinata, membagi prinsip pengembangan kurikulum menjadi dua kelompok, yakni prinsip umum dan prinsip umum dimaknai sebagai prinsip yang harus diperhatikan untuk dimiliki oleh kurikulum sebagai totalitas dari gabungan komponen-komponen yang membangunnya. Adapun penjabaran prinsip-prinsip umum ialah sebagai berikut 1. Prinsip relevansi Relevansi memiliki makna sesuai atau serasi. Jika mengacu pada prinsip relevansi, setidaknya kurikulum harus memperhatikan aspek internal dan eksternal. Secara internal, kurikulum memiliki relevansi antara komponen kurikulum tujuan, bahan, strategi, organisasi, dan evaluasi. Sedangkan secara eksternal komponen itu memiliki relevansi dengan tuntutan sains dan Fitroh, “Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Dan Strategi Pencapaian,” STUDIA INFORMATIKA JURNAL SISTEM INFORMASI 4, no. 2 2011 1–7, Syafaruddin and Amiruddin, Manajemen Kurikulum, 135–36. Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek, 86. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami PALAPA Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan teknologi relevansi epistemologis, tuntutan dan potensi siswa relevansi psikologis, serta tuntutan dan kebutuhan pengembangan masyarakat relevansi sosiologis.Oleh sebab itu, dalam membuat kurikulum harus memperhatikan kebutuhan lingkungan masyarakat dan siswa di sekitarnya, sehingga nantinya akan bermanfaat bagi siswa untuk berkompetisi di dunia kerja yang akan datang. Dalam realitanya prinsip di atas memang harus betul-betul diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Dan yang tidak kalah penting harus sesuai dengan perkembangan teknologi sehingga mereka selaras dalam upaya membangun Prinsip fleksibilitas Pengembangan kurikulum berupaya agar hasilnya fleksibel, fleksibel, dan fleksibel dalam implementasinya, memungkinkan penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar belakang siswa, peran kurikulum disini sangat penting terhadap perkembangan siswa untuk itu prinsip fleksibel ini harus benar benar diperhatikan sebagai penunjang untuk peningkatan mutu pendidikan. Dalam prinsip fleksibilitas ini dimaksudkan bahwa, kurikulum harus memiliki fleksibilitas. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam implementasinya dimungkinkan untuk menyesuaikan penyesuaian berdasarkan kondisi regional. Waktu dan kemampuan serta latar belakang anak. Kurikulum ini mempersiapkan anak-anak untuk saat ini dan masa depan. Kurikulum tetap fleksibel di mana saja, bahkan untuk anak-anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda, pengembangan kurikulum masih bisa dilakukan. Hendyat Soetopo and Wasty Soemanto, Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan Jakarta Bina Aksara, 1986, 49. Asmariani, “Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Dalam Perspektif Islam Al-Afkar Jurnal Keislaman & Peradaban,” accessed April 15, 2020, Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami Volume 8, Nomor 1, Mei 2020 Kurikulum harus menyediakan ruang untuk memberikan kebebasan bagi pendidik untuk mengembangkan program pembelajaran. Pendidik dalam hal ini memiliki kewenangan dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan minat, kebutuhan siswa dan kebutuhan bidang lingkungan Prinsip kontinuitas Yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dan jenis pekerjaan. Makna kontinuitas disini adalah berhubungan, yaitu adanya nilai keterkaitan antara kurikulum dari berbagai tingkat pendidikan. Sehingga tidak terjadi pengulangan atau disharmonisasi bahan pembelajaran yang berakibat jenuh atau membosankan baik yang mengajarkan guru maupun yang belajar peserta didik. Selain berhubungan dengan tingkat pendidikan, kurikulum juga diharuskan berhubungan dengan berbagai studi, agar antara satu studi dapat melengkapi studi fleksibilitas adalah kurikulum yang dikembangkan tidak kaku dan memberikan kebebasan kepada guru maupun peserta didik dalam memilih program atau bahan pembelajaran, sehingga tidak ada unsur paksaan dalam menempuh program Prinsip efisiensi Peran kurikulum dalam ranah pendidikan adalah sangat penting dan bahkan vital dalam proses pembelajaran, ia mencakup segala hal dalam perencanaan pembelajaran agar lebih optimal dan efektif. Dewasa ini, dunia revolusi industri menawarkan berbagai macam perkembangan kurikulum yang dilahirkan oleh para ahli dari dunia barat. Salah satu pengembangan Rosichin Mansur, “PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MULTIKULTURAL Suatu Prinsip-Prinsip Pengembangan,” Vicratina Jurnal Pendidikan Islam 1, no. 2 November 18, 2016, Soetopo and Soemanto, Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan, 52–53. Soetopo and Soemanto, 53–54. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami PALAPA Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan kurikulum yang dipakai oleh pemerintah Indonesia untuk mecapai sebuah cita-cita bangsa yaitu mengoptimalkan kecerdasan anak-anak generasi penerus bangsa untuk memilki akhlak mulia dan berbudi pekerti yang luhur. Efisiensi adalah salah satu prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum, sehingga apa yang telah direncanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jika sebuah program pembelajaran dapat diadakan satu bulan pada satu waktu dan memenuhi semua tujuan yang ditetapkan, itu bukan halangan. Sehingga siswa dapat mengimplementasikan program pembelajaran lain karena upaya itu diperlukan agar dalam pengembangan kurikulum dapat memanfaatkan sumber daya pendidikan yang ada secara optimal, cermat, dan tepat sehingga hasilnya Prinsip efektivitas Mengembangkan kurikulum pendidikan perlu mempertimbangkan prinsip efektivitas, yang dimaksud dengan efektivitas di sini adalah sejauh mana rencana program pembelajaran dicapai atau diimplementasikan. Dalam prinsip ini ada dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu efektivitas mengajar guru dan efektivitas belajar aspek mengajar guru, jika masih kurang efektif dalam mengajar bahan ajar atau program, maka itu menjadi bahan dalam mengembangkan kurikulum di masa depan, yaitu dengan mengadakan pelatihan, workshop dan lain-lain. Sedangkan pada aspek efektivitas belajar siswa, perlu dikembangkan kurikulum yang terkait dengan metodologi pembelajaran sehingga apa yang sudah direncanakan dapat tercapai dengan metode yang relevan dengan materi atau materi pembelajaran. Sedangkan prinsip khusus, sebagaimana dikemukakan oleh Sukmadinatamencakup lima hal, yakni; prinsip penentuan tujuan pendidikan, pemilihan isi pendidikan, pemilihan proses belajar mengajar, pemilihan media dan alat pengajaran, serta berkenaan dengan penilaian. Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut Soetopo and Soemanto, 50–51. Soetopo and Soemanto, 50–51. Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek, 86. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami Volume 8, Nomor 1, Mei 2020 1. Prinsip penentuan tujuan pendidikan Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum dan khusus. Dalam perumusan tujuan pendidikan, didasarkan pada sumber-sumber, seperti; ketentuan dan kebijakan pemerintah, survei mengenai persepsi masyarakat tentang kebutuhan mereka, survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, survei tentang kualitas sumber daya manusia, serta pengalaman negara lain dalam menghadapi masalah yang sama. 2. Prinsip pemilihan isi pendidikan/kurikulum Dalam menentukan isi kurikulum, beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan dasar acuan ialah; diperlukan penjabaran tujuan pendidikan ke dalam perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana, isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan, serta unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis, maksudnya ketiga ranah belajar tersebut diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar. 3. Prinsip pemilihan proses belajar mengajar Dalam proses belajar mengajar, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini; kecocokan metode/teknik belajar mengajar untuk mengajarkan bahan pelajaran, variasi metode/teknik dalam proses belajar mengajar terhadap perbedaan individu siswa, serta keefektifan metode/teknik dalam mengaktifkan siswa dan mendorong berkembangnya kemampuan baru. 4. Prinsip pemilihan media dan alat pengajaran Dalam proses pemilihan media dan alat pengajaran, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini; kegiatan perencanaan dan inventaris terhadap alat/media apa saja yang tersedia, serta pengorganisasian alat dalam bahan pembelajaran, baik dalam bentuk modul atau buku paket. 5. Prinsip berkenaan dengan penilaian Penilaian merupakan proses akhir dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam proses penilaian belajar, setidaknya mencakup tiga hal dasar yang Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami PALAPA Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan harus diperhatikan, yakni; pertama, merencanakan alat penilaian. Hal yang harus diperhatikan dalam fase ini ialah penentuan karakteristik kelas dan usia, bentuk tes/ujian, dan banyaknya butir tes yang disusun. Kedua, menyusun alat penilaian. Langkah-langkahnya adalah dengan merumuskan tujuan pendidikan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, mendeskripsikan dalam bentuk tingkah laku siswa yang dapat diamati, menghubungkan dengan bahan pelajaran, serta menuliskan butir-butir tes. Ketiga, mengelola hasil penilaian. Prinsip yang perlu diperhatikan ialah norma penilaian yang digunakan dalam pengelolaan hasil tes serta penggunaan skor standard. KESIMPULAN Kurikulum memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Keberadaan kurikulum merupakan salah satu bentuk nyata dalam mengusahakan terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, kurikulum tidaklah bersifat statis. Kurikulum dapat diubah maupun dimodifikasi secara dinamis mengikuti arah perkembangan zaman dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur masyarakat. Proses mengubah dan memodifikasi ini dinamakan proses pengembangan. Pengembangan kurikulum bukanlah proses instan tanpa adanya kajian yang matang terhadapnya. Setidaknya sumber rujukan dalam mengembangkan kurikulum harus berdasar pada data empiris dan eksperimen, serta cerita dan pengetahuan umum yang berkembang di masyarakat. Selain itu, pijakan dalam menegembangkan kurikulum juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip dasar, seperti; prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, efisiensi, efektivitas, dan komponen pendidikan lainnya agar tujuan pengembangan kurikulum dapat terarah dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Arifin, Zainal. Konsep Dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung Remaja Rosdakarya, 2015. Arif Rahman Prasetyo & Tasman Hamami Volume 8, Nomor 1, Mei 2020 Asmariani. “Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Dalam Perspektif Islam Al-Afkar Jurnal Keislaman & Peradaban.” Accessed April 15, 2020. Dakir. Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta Bumi Aksara, 2010. Fitroh. “Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Dan Strategi Pencapaian.” STUDIA INFORMATIKA JURNAL SISTEM INFORMASI 4, no. 2 2011. Hamalik, Oemar. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung Remaja Rosdakarya, 2008. Hamzah, A. Model Pengembangan Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Berbasis Mentalitas. Bangkalan Universitas Trunojoyo Press, 2007. Kamal, Mustofa. “Model Pengembangan Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Berbasis Sosiologi Kritis, Kreativitas Dan Mentalitas.” Madaniyah 4, no. 2 2014 230–50. Langgulung, Hasan. Manusia Dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Dan Pendidikan. Jakarta Pustaka al-Husna, 1986. Mansur, Rosichin. “PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MULTIKULTURAL Suatu Prinsip-Prinsip Pengembangan.” Vicratina Jurnal Pendidikan Islam 1, no. 2 November 18, 2016. Nasution, S. Kurikulum Dan Pengajaran. Jakarta Rineka Cipta, 1989. Oliva, Peter F. Developing The Curriculum. III. United States Harper Collins Publishers, 1992. Rusman. Manajemen Kurikulum. Jakarta Rajawali Press, 2009. Soetopo, Hendyat, and Wasty Soemanto. Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan. Jakarta Bina Aksara, 1986. Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung Alfabeta, 2009. Sukmadinata, N. S. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. Bandung Remaja Rosdakarya, 2004. Syafaruddin, and Amiruddin. Manajemen Kurikulum. Medan Perdana Publishing, 2017. Wahyuni, Fitri. “KURIKULUM DARI MASA KE MASA Telaah Atas Pentahapan Kurikulum Pendidikan Di Indonesia Al-Adabiya Jurnal Kebudayaan Dan Keagamaan.” Accessed April 15, 2020. Wijaya, Pandasurya. “Survei Pendidikan Dunia, Indonesia Masuk 10 Terbawah Dari 79 Negara.” Accessed March 3, 2020. Zed, Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta Yayasan Obor Indonesia, 2008. ... 5 Nilai-nilai dalam masyarakat, termasuk nilai-nilai apa saja yang diajarkan di sekolah atau dalam pelaksanaan kurikulum. Prasetyo & Hamami, 2020. ...Oktia Anisa PutriIfnaldi NurmalThis study aimed to learn how the implementation of religious moderation in the development of the PAI curriculum. Researchers used the Library Research research method with historical analysis research types and data collection techniques taken from various literature that discussed the theme in question to find out this. The data that has been collected is then analyzed using content analysis techniques. The study results reveal that the inculcation of moderation values in education is so important in managing world civilization in the field of education. With a high sense of tolerance, will not blame differences. However, this does not mean that moderate Islamic teachings are wishy-washy. Still, these teachings will filter out existing disputes and unite the differences that divide the archipelago, nation and religion. Religious moderation in schools can be done through the Hidden Curriculum. The process of acculturation through the habit of internalization and institutionalization. The PAI curriculum now also uses the independent learning curriculum where the aim of the Free Learning curriculum is the policy of the Minister of Education and Culture to encourage students to master useful knowledge. and provide opportunities for students to be free but still express learning within existing limits and criticisms, without having to fade away as noble ideals and also morals for educators. The factors that influence religious moderation in schools include internal and external factors.... Rachmawati, 2020. Penilaian pada Kurikulum 2013 mencakup tiga ranah di antaranya ialah ranah kognitif pengetahuan, afektif sikap sosial dan spiritual, dan psikomotor keterampilan Prasetyo & Hamami, 2020. Dalam prosesnya, penilaian tentunya memerlukan instrumen penilaian yang tepat agar penilaian berlangsung efektif. ...Ni Kadek Ledi Anggreni I Gede AstawanNi Wayan RatiKurang maksimalnya penilaian pada ranah afektif disebabkan oleh tidak adanya pengembangan instrumen penilaian yang mampu mengukur aspek-aspek penilaian. Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan instrumen penilaian sikap spiritual dan sikap sosial siswa kelas VI SD pada tema Persatuan dalam Perbedaan yang valid dan reliabel. Penelitian ini berjenis pengembangan dengan menggunakan model pengembangan RDR. Metode pengumpulan data berupa lembar validasi instrumen dengan melibatkan dua ahli dan dua praktisi kelas VI. Subjek penelitian ini adalah 2 orang ahli dan 2 orang praktisi kelas VI. Metode analisis data menggunakan uji gregory untuk mencari validitas dan uji percentage of agreement untuk mencari reliabilitas. Validitas isi instrumen penilaian sikap spiritual dan sikap sosial menunjukkan hasil 1,00 berkriteria validitas sangat tinggi. Reliabilitas pada instrumen sikap spiritual dan sikap sosial menunjukkan hasil 1,00 berkriteria reliabel. Dapat disimpulkan bahwa instrumen layak untuk digunakan menilai sikap spiritual dan sikap sosial siswa kelas VI SD pada tema Persatuan dalam Perbedaan.... Assessment is a systematic and continuous process or activity to collect information about the process and results of student learning in order to make decisions based on certain criteria and considerations Astuti et al., 2018;Daga, 2020;Prasetyo & Hamami, 2020;Waizah & Herwani, 2021. The decisions in question are decisions about students, such as the grades to be given or also decisions about grade promotion and graduation. ...Ulil Maziyatin NafisyahSofyan HadiLailatul UsriyahThe purpose of the study was to describe the authentic assessment of attitude, knowledge and skills competencies in thematic learning at MI Nurul Islam 02 Balung Jember. This research uses a qualitative research approach and case study research type. The location of this research is MI Nurul Islam 02 Balung Jember. Determination of informants using purposive technique. Data collection techniques using non-participant observation, semi-structured interviews. Data analysis using data condensation, data presentation, drawing conclusions or verification. The results of this study are 1 Authentic assessment of attitude competence in thematic learning at MI Nurul Islam 02 Balung Jember includes spiritual attitudes and social attitudes 2 Authentic assessment of knowledge competence is using written tests, oral tests and assignments. On the theme of 8 Regions Where I Live sub-theme 1 learning to 1 knowledge assessment is carried out in written tests and assignments, written tests are making sentences from a word, and pairing buildings and nets of building spaces. The assignment is that the teacher gives homework in groups. 3 Authentic assessment of skill competencies in thematic learning in the form of portfolio, project, and performance assessments. Skills assessment is seen from students' skills when doing storytelling activities.... Guru bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak, diharapkan terjadi interaksi belajar-mengajar, guru yang profesional merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya eksposisi pembelajaran dan guru harus menguasai prinsip-prinsip pembelajaran dalam pembelajaran. Selain menguasai materi yang diajarkan Prasetyo & Hamami, 2020. Maka dari itu guru profesional saat mengajar tidak hanya memberikan banyak nasihat-nasihat, namun mampu memiliki peranan yang besar dalam kemajuan pendidikan seperti mengikuti workshop atau kegiatan pelatihan agar pencapaian tujuan pembelajaran Kristiawan & Rahmat, 2018. ...Salwa Meliana SabrinaAslam AslamPenelitian ini didasarkan dalam peranan kepala sekolah untuk meningkatkan profesionl guru. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengambaran beberapa temuan di lapangan, menggunakan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 7 orang terdiri dari kepala sekolah, perwakilan empat guru, dan dua karyawan dengan objek penelitian meliputi Analisis Peranan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Profesional Guru di SDN Kali Baru 3 Bekasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokementasi, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 Kepala sekolah telah melaksanakan peranan berupa arahan dan instruksi kepada guru, pegawai tentang apa yang harus dilakukan. Sehingga arahan dan instruksi dapat dicermati dan diikuti dengan baik dan maksimal, 2 Faktor pendukung peranan kepala sekolah selama ini terbuka untuk saling kerjasama dan memberikan kenyamanan kepada guru. Sedangkan faktor penghambatnya terdapat salah satu guru yang masih kurang paham menggunakan memiliki tujuan didalamnya, seperti yang tertera dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 bahwa salah satu tujuan pendidikan nasional ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam mencapai tujuan pendidikan diperlukan alat yang dapat mengarahkan dan menjadi landasan dalam kegiatan pembelajaran yaitu kurikulum. Kurikulum merupakan alat pembantu dalam pelaksanaan pembelajaran yang dapat menyokong terwujudnya tujuan pendidikan. Dengan begitu harus adanya penyesuaian terhadap kurikulum yang diterapkan. Kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik juga dengan capaian yang harus dipenuhi. Hal ini menyebabkan adanya perubahan atau pengembangan kurikulum secara berkala. Melihat adanya perubahan kurikulum secara berkala, menimbulkan pertanyaan apakah perubahan untuk pengembangan kurikulum tersebut memiliki pengaruh dalam prestasi belajar peserta didik. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengembangan kurikulum terhadap prestasi belajar peserta didik. Metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode literatur review atau studi kepustakaan dengan analisis deskriptif. Dari penelitian yang dilakukan, penulis mendapatkan hasil bahwa pengembangan kurikulum disebagian sekolah dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Namun dilain pihak, pengembangan kurikulum ini hanya meningkatkan motivasi prestasi saja tanpa adanya peningkatan prestasi belajar peserta didik. Pengembangan kurikulum merupakan hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan evaluasian namun harus tetap berlandaskan tujuan pendidikan juga kebutuhan peserta Kurikulum Berbasis Kompetensi Dan Strategi PencapaianDakir. Perencanaan Dan Pengembangan KurikulumJakartaDakir. Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta Bumi Aksara, 2010. Fitroh. "Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Dan Strategi Pencapaian." STUDIA INFORMATIKA JURNAL SISTEM INFORMASI 4, no. 2 2011. Pengembangan Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Berbasis MentalitasA HamzahHamzah, A. Model Pengembangan Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Berbasis Mentalitas. Bangkalan Universitas Trunojoyo Press, Pengembangan Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Berbasis Sosiologi Kritis, Kreativitas Dan MentalitasMustofa KamalKamal, Mustofa. "Model Pengembangan Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Berbasis Sosiologi Kritis, Kreativitas Dan Mentalitas." Madaniyah 4, no. 2 2014 The Curriculum. III. United StatesPeter F OlivaOliva, Peter F. Developing The Curriculum. III. United States Harper Collins Publishers, Dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi PendidikanHendyat SoetopoWasty SoemantoSoetopo, Hendyat, and Wasty Soemanto. Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan. Jakarta Bina Aksara, DARI MASA KE MASA Telaah Atas Pentahapan Kurikulum Pendidikan Di Indonesia Al-Adabiya Jurnal Kebudayaan Dan KeagamaanSyafaruddinAmiruddinManajemen KurikulumMedanSyafaruddin, and Amiruddin. Manajemen Kurikulum. Medan Perdana Publishing, 2017. Wahyuni, Fitri. "KURIKULUM DARI MASA KE MASA Telaah Atas Pentahapan Kurikulum Pendidikan Di Indonesia Al-Adabiya Jurnal Kebudayaan Dan Keagamaan." Accessed April 15, 2020. ew/ Pendidikan Dunia, Indonesia Masuk 10 Terbawah Dari 79 NegaraPandasurya WijayaWijaya, Pandasurya. "Survei Pendidikan Dunia, Indonesia Masuk 10 Terbawah Dari 79 Negara." Accessed March 3, 2020.
Ilustrasi Seni Rupa. Foto PixabaySeni rupa adalah salah satu jenis karya seni yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembuatan karyanya, ada sejumlah prinsip seni rupa yang perlu seni rupa dapat diartikan sebagai suatu kaidah yang perlu dilakukan dalam proses pembentukan suatu karya seni rupa yang apa saja prinsip-prinsip seni rupa? Simak jawabannya pada pembahasan mengenai prinsip-prinsip-prinsip seni rupa di bawah Seni RupaIlustrasi melukis adalah salah satu teknis dalam menghasilkan karya seni rupa. Foto PexelsMenurut Mansurdin, M. Hum., dalam bukunya yang berjudul Pembudayaan Literasi Seni Di SD, pengertian dari seni rupa adalah sebuah cabang seni yang hasilnya dapat dinikmati oleh mata dan disentuh dengan rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan oleh indra rupa biasanya dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya adalah seni rupa murni dan seni rupa terapan. Selain itu, seni rupa juga dikelompokkan berdasarkan bentuk dari karyanya, yakni seni rupa dua dimensi dan seni rupa tiga yang Dimaksud Unsur dan Prinsip Seni Rupa?Ilustrasi membuat karya seni rupa. Foto PexelsSecara harfiah, seni merupakan keahlian membuat karya bermutu yang dilihat dari segi keindahan, kehalusan, dan lainnya. Seni memiliki sejumlah cabang, salah satunya adalah seni rupa. Seni rupa juga dapat diartikan sebagai seni pahat seperti patung dan seni membentuk suatu karya seni rupa, dibutuhkan unsur dan prinsip-prinsip tertentu. Unsur dalam seni rupa ialah elemen-elemen yang digunakan dalam proses pembuatan karya seni umum, unsur-unsur yang mewujudkan sebuah karya seni rupa terdiri dari unsur fisik dan nonfisik. Unsur fisik adalah bagian yang secara langsung dapat dilihat dan atau diraba dalam sebuah karya seni rupa. Contoh unsur-unsur fisik dalam seni rupa adalah sebagai berikutGaris, yakni unsur yang memiliki dimensi memanjang dan mempunyai arah serta sifat-sifat khusus, pendek, panjang, vertikal, horizontal, lurus, melengkung, berombak dan atau bidang, yaitu unsur seni rupa yang terbentuk dari pertemuan ujung dari sebuah garis atau perpotongan dari beberapa garis yang yaitu unsur yang selalu berkaitan dengan benda yang bisa berbentuk seperti suatu bangun atau yakni unsur yang berkaitan dengan dimensi suatu karya, seperti dua dimensi yang hanya menunjukkan ukuran panjang dan lebar, sedangkan ruang tiga dimensi memberikan kesan yaitu unsur seni rupa yang berkaitan dengan kualitas taktil dari suatu yakni unsur seni rupa yang mana karya dari seni tersebut mengeluarkan kesan yang ditimbulkan akibat pantulan cahaya yang mengenai permukaan suatu terang, yaitu unsur yang timbul karena adanya perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan beberapa unsur fisik pada karya seni rupa. Berbeda dengan unsur fisik, unsur nonfisik adalah kaidah-kaidah umum yang digunakan untuk menempatkan unsur-unsur fisik dalam sebuah karya nonfisik inilah yang disebut sebagai prinsip seni rupa yang banyak digunakan dalam proses pembuatan karya dari seni atau aturan baku ini disebut komposisi, berasal dari bahasa latin compositio yang artinya menyusun atau menggabungkan menjadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip seni rupa adalah unsur nonfisik dalam karya seni rupa berupa kaidah atau aturan baku yang diyakini oleh beberapa seniman secara konvensional dapat membentuk sebuah karya seni yang baik dan Prinsip Seni RupaIlustrasi membuat karya seni rupa. Foto PexelsSeni rupa memiliki elemen-elemen pokok yang sangat penting di dalamnya, yaitu titik, garis, warna, bentuk, ruang, bidang, dan tekstur. Tak hanya itu, ketika ingin membuat karya seni rupa, ada komposisi atau prinsip yang harus adalah prinsip-prinsip seni rupa yang diterapkan dalam proses pembuatan KesatuanIlustrasi Kesatuan. Foto PixabayKesatuan dalam seni rupa diartikan sebagai unsur-unsur yang saling berkaitan dengan baik. Keberhasilan sebuah seni rupa dimulai dari rancangannya. Oleh karena itu, seorang seniman dapat melihat terlebih dulu kesatuan dalam KeseimbanganIlustrasi Keseimbangan. Foto PixabayKeseimbangan dalam seni rupa dapat dilihat dari empat poin, yakni simetris, asimetris, radial/sentral, dan kesan yang diberikan. Keseimbangan ini didapat dari pengelompokkan objek kecil di antara benda besar, penggunaan banyak warna terang dengan sebuah objek berwarna gelap, dan Irama/RitmeIlustrasi Irama. Foto PixabayDalam sebuah karya seni rupa, irama atau ritme dapat berupa pengulangan bentuk, warna, atau motif. Pengulangan ini bebas dilakukan sesuai selera sang perubahan dari besar ke kecil disebut irama progresif, sedangkan dari kecil ke besar disebut irama mengalun. Irama dengan pengulangan bentuk, ukuran, dan warna yang sama disebut irama Pusat PerhatianIlustrasi Pusat Perhatian. Foto PixabayPusat perhatian merupakan prinsip dominasi untuk menampilkan atau menonjolkan sesuatu dalam suatu karya seni rupa. Pusat perhatian bisa ditunjukkan lewat warna, bentuk, atau gerak. Misalnya, warna cerah di sekeliling warna KontrasIlustrasi Kontras. Foto PixabayPrinsip kontras dapat dicontohkan dengan lukisan yang memiliki susunan warna harmonis ditambah beberapa warna yang berlainan. Selain itu, kontras dalam seni rupa juga dapat berupa dua unsur yang saling tumpang tindih. Ketidakserasian tersebut menciptakan harmoni yang saling ProporsiIlustrasi Proporsi. Foto PixabayProporsi sangat penting dalam menggambarkan bentuk untuk menampilkan benda sesuai dengan aslinya. Secara umum, prinsip proporsi diterapkan dengan membandingkan bagian satu dengan lainnya agar selaras dan enak KomposisiIlustrasi Komposisi. Foto PixabayPrinsip ini menjadi salah satu dasar keindahan dari karya seni. Komposisi juga berhubungan dengan penyusunan unsur sehingga menjadi teratur. Ketika suatu komposisi seni rupa tepat, maka akan menghasilkan karya seni yang baik sehingga dapat memunculkan sebuah 7 prinsip yang digunakan dalam proses pembuatan karya seni rupa. Prinsip seni rupa tersebut harus diterapkan agar dapat menciptakan karya seni rupa yang indah dan Seni RupaIlustrasi pamera karya seni rupa. Foto PexelsSeni rupa dengan berbagai jenisnya memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan. Dikutip dari Pembelajaran Seni Rupa untuk Usia Dini oleh Lisa Aditya Dwiwansyah, dkk., 2021 11-12, berikut beberapa fungsi seni rupa yang bisa dipahami1. Fungsi Pemenuhan Kebutuhan FisikFungsi ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan fisik manusia, baik yang dipakai langsung maupun sebagai pelengkap aktivitas. Misalnya, pakaian, perabotan rumah, kerajinan, perhiasan, dan sebagainya. Pada hakikatnya, manusia menyukai hal-hal yang indah dan butuh benda untuk dipakai. Seni rupa yang diwujudkan dalam bentuk benda dan bisa dimanfaatkan hendaknya memiliki tiga kriteria, yaitu keindahan, kenyamanan, dan Fungsi Pemenuhan Kebutuhan EmosionalSeni rupa juga berfungsi sebagai pemenuhan terhadap kebutuhan emosional manusia. Ini karena manusia memiliki banyak perasaan, seperti bahagia, sedih, malas, semangat, dan sebagainya. Sebagai contoh, jika seseorang merasa sedih dan bosan, dia perlu rekreasi sebagai penghiburan, seperti menonton bioskop atau berkunjung ke pameran Fungsi KomunikasiManusia selalu berkomunikasi dengan sesamanya dan alat komunikasi yang sering digunakan adalah bahasa. Bahasa ini dapat dituangkan dalam bentuk seni rupa, misalnya seorang pelukis membuat lukisan untuk menyampaikan ide atau gagasannya terhadap sesuatu agar orang yang melihat lukisan tersebut dapat menerima dengan baik maksud yang ingin disampaikan oleh Fungsi EdukasiSelain nilai keindahan, seni rupa juga berfungsi sebagai nilai edukasi. Karya seni rupa bisa memberikan informasi baik tersirat maupun seperti seni pertunjukan wayang. Selain berfungsi untuk menghibur, seni wayang juga terkandung pesan dan amanat di Fungsi AgamaFungsi seni rupa dalam bidang keagamaan adalah untuk menyampaikan pesan yang diinginkan agama untuk umatnya. Contohnya adalah kaligrafi. Selain untuk mempercantik masjid-masjid, kaligrafi juga merupakan sarana yang dimaksud dengan seni rupa?Apa itu unsur fisik dalam seni rupa?Apa saja unsur-unsur seni rupa?
Menjalani kehidupan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak jarang banyak rintangan yang membuat kehidupan itu sendiri menjadi terasa sangat itu semua akan terasa lebih mudah jika kamu kerap memiliki sikap mindfulness. Artinya, kamu bisa menyadari sepenuhnya dengan situasi yang sedang kamu hadapi saat karenanya, cobalah untuk terus memegang lima prinsip kehidupan berikut. Cari tahu bagaimana menjadi pribadi yang berprinsip dan terus mengedepankan mindfulness!1. Jika kamu tidak puas dengan situasimu, hadapi kenyataan tersebut ilustrasi sedang merasa bosan tidak selamanya berada di suatu tempat secara permanen. Artinya, terkadang kamu mungkin berada di atas dan bisa jadi dalam waktu sekejap kamu juga berada di yang harus dipahami adalah ketika kamu sedang merasa tidak nyaman dengan situasimu saat ini, maka hadapilah kenyataan tersebut. Sebisa mungkin ubah situasi tersebut menjadi lebih baik dan kamu hanya meratapi dan menangis sepanjang hari. Air mata tidak akan mampu mengubah situasi, tetapi kerja kerasmu tak akan mengkhianati Memulai sesuatu memang sulit, namun sekalipun gagal kamu sudah berkembang ilustrasi mengalami kegagalan dari nol atau memulai sesuatu dari awal memang sangat sulit. Kamu harus mengulang usaha yang sama atau lebih keras untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Namun itu semua juga tak menjamin bahwa kamu akan berhasil. Bisa jadi kamu akan gagal ingat, satu kali kegagalan yang kamu hadapi akan membuatmu berkembang. Kamu telah beranjak dari satu situasi dan berada di situasi yang lain. Kamu akan banyak belajar dan memahami situasi dan menjadi lebih baik lagi. Baca Juga 5 Prinsip Hidup yang Membuatmu Menarik, Beda dari yang Lain 3. Nilailah orang dari pengalamanmu bersamanya, bukan dari perkataan orang lain ilustrasi ngobrol bareng teman harus berprinsip, termasuk dalam memahami informasi yang kamu terima. Jangan mudah percaya terhadap perkataan orang lain. Kamu harus melihat segala sesuatunya dari kaca matamu pernah menilai orang lain dari perkataan orang lain pula. Bisa jadi orang tersebut hanya membangun citra negatif agar banyak orang membenci pribadi orang yang sedang dijelek-jelekkannya. Dan kamu tidak berkepentingan untuk tergabung dalam lingkungan toksik Jadilah dewasa dengan bertanggung jawab atas kesalahanmu ilustrasi wanita menyendiri setiap momen kehidupan, setiap orang dituntut untuk selalu bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Tak semudah teorinya, karena faktanya bertanggung jawab menjadi satu hal yang sangat sulit untuk prinsip dan jadilah dewasa dengan selalu mengambil rasa tanggung jawab tersebut. Jangan hanya mau enaknya saja, dan jangan pula mengorbankan orang lain demi kepentinganmu Ketika menginginkan sesuatu, jangan setengah-setengah ilustrasi bekerja hingga lupa waktu manusia yang memiliki prinsip kuat bahwa ketika kamu sedang menginginkan sesuatu, maka kamu berjanji untuk berusaha sekerasnya. Jangan membangun mimpi setengah-setengah karena mungkin kamu ragu dengan dirimu pasanglah target yang paling tinggi dan jangan ragu untuk mengafirmasikannya. Karena sekalipun kamu gagal saat mendapatkan posisi tersebut, kamu masih terjatuh satu level di bawahnya. Artinya, kamu tetap berhasil dan berada di atas orang bersikap mindfulness, kamu akan lebih siap menghadapi kehidupan yang penuh kejutan. Jadi, prinsip mana yang sudah kamu pegang? Baca Juga 5 Prinsip Hidup Minimalis Membantumu Raih Mimpi, Coba, deh! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Apa itu Kepemimpinan etis ethical leadership adalah gaya kepemimpinan dengan penekanan pada kesesuaian terhadap norma dan nilai-nilai yang diakui. Pemimpin menekankan pada prinsip-prinsip seperti keadilan, kejujuran, akuntabilitas dan kepercayaan. Selain itu, mereka mempromosikan prinsip-prinsip tersebut kepada pengikut melalui komunikasi dua arah, penguatan dan pengambilan keputusan. Dengan mengedepankan etika, pemimpin mempromosikan integritas yang kuat. Itu mendorong bawahan untuk menaruh kepercayaan tinggi pada pemimpin. Akhirnya, mereka bersedia dengan senang hati untuk menerima dan mengikuti visi pemimpin. Di level yang lebih tinggi, pemimpin yang etis bisa membawa perusahaan mengembangkan budaya dan nilai ke arah yang lebih baik. Itu meningkatkan citra perusahaan dan publik akan memandangnya secara positif. Mengapa kepemimpinan etis penting? Beberapa alasan menjelaskan mengapa kepemimpinan etis esensial bagi sebuah perusahaan. Pertama, jika pemimpin menjunjung tinggi etika, itu akan menyebar di seluruh organisasi. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai yang dikembangkan di dalam organisasi dan mengharapkan bawahan untuk menunjukkan dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Kedua, pemimpin etis penting untuk menumbuhkan lingkungan yang positif di dalam perusahaan. Itu mengarah pada hubungan yang produktif, baik di tingkat individu, tim, maupun organisasi. Sehingga, itu menghasilkan hasil dan manfaat positif di ketiga level. Ketiga, lingkungan positif yang terbangun melalui kepemimpinan etis mengarah pada produktivitas yang lebih tinggi. Itu juga berdampak pada sikap kerja yang positif di antara bawahan. Misalnya, pemimpin menghargai dan menunjukkan rasa hormat kepada bawahan. Itu juga akan mengarah pada hubungan timbal balik yang positif. Karyawan tidak hanya juga menunjukkan dan mempercayai pemimpin. Tapi, mereka juga termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi pemimpin. Keempat, kepemimpinan etis penting untuk membangun sinergi tim. Pemimpin dan bawahan membangun kolaborasi yang kuat diantara mereka. Akhirnya, itu mengarah pada moral yang tinggi di tempat kerja. Ketika pemimpin menciptakan ikatan yang kuat, mereka lebih mudah untuk mendorong bawahan untuk merealisasikan visi mereka. Bawahan dan atasan berada pada mode yang sama untuk mencapai misi tersebut. Kelima, publik melihat secara positif citra perusahaan. Nilai-nilai yang terbangun tersebar keluar organisasi, misalnya melalui interaksi sosial antara bawahan dan kolega di luar sana. Akhirnya, itu menciptakan persepsi diantara orang-orang di luar organisasi. Misalnya, publik melihat perusahaan merupakan tempat kerja yang bersahabat dan ramah pada karyawan. Citra positif tersebut esensial, misalnya, untuk membangun keunggulan kompetitif. Sebagai tempat kerja yang bersahabat, banyak profesional di luar sana berniat untuk melamar kerja di perusahaan. Sebagai hasilnya, perekrutan tidak hanya lebih mudah. Tapi, itu juga lebih murah, misalnya, karena mengurangi biaya promosi. Selain itu, itu memberi lebih banyak kesempatan bagi perusahaan untuk merekrut talenta terbaik di luar sana. Apa saja enam prinsip dalam kepemimpinan etis? Kepemimpinan etis bekerja dengan mengedepankan enam prinsip utama. Mereka adalah Fairness atau keadilanAccountability atau akuntabilitasTrust atau kepercayaanHonesty atau kejujuranEquality atau kesetaraanRespect atau rasa hormat Fairness Prinsip ini menggarisbawahi moralitas. Itu adalah tentang bagaimana memperlakukan sesuatu sebagaimana mestinya, tanpa menjustifikasi terlebih dahulu. Misalnya, seorang karyawan melakukan kesalahan. Pemimpin tidak langsung mengenakan sanksi tapi mendalami alasan dibalik itu. Dan jika memang karena kelalaian, mereka mungkin mengambil tindakan yang sesuai dengan aturan di perusahaan. Selain itu, keadilan juga mengedepankan untuk memperlakukan dan berperilaku secara tidak memihak dan adil tanpa pilih kasih. Misalnya, kita berharap orang lain memperlakukan kita dengan adil dan sebaliknya, mereka juga mengharapkan itu dari kita. Kita berpegang pada standar yang dapat diterima dan bersikap masuk akal dalam tanggapan mereka. Accountability Kita mungkin sering melihat beberapa membuat kesalahan. Namun, mereka sering bergerak cepat untuk menghindari konsekuensinya. Atau mereka lebih suka untuk menyalahkan orang lain dan menjadikan orang lain sebagai korban atas apa yang mereka lakukan. Akuntabilitas adalah tentang secara sadar berperilaku dan menjalankan peran sesuai dengan standar yang berlaku dan bertanggung jawab atas segala konsekuensinya. Prinsip ini adalah esensial karena menggarisbawahi pemimpin yang kuat dan dapat dipercaya. Pemimpin akuntabel bertanggung jawab penuh tidak hanya atas keputusan mereka. Tapi, mereka juga bertanggung jawab atas konsekuensinya. Misalnya, pimpinan mungkin mengambil keputusan sesuai dengan aturan. Tapi, keputusan mereka tidak sukses dan berdampak negatif pada organisasi. Dan pemimpin yang akuntabel berani dan bersedia untuk mengakui dan menanggung akibatnya, bukan menyalahkan orang lain. Trust Jika pemimpin tidak mempercayai bawahan, lantas bagaimana bawahan akan percaya kepada mereka. Kepercayaan penting untuk membangun ikatan yang kuat dalam hubungan interpersonal. Ketika ikatan kuat tercipta antara bawahan dan atasan, itu akan mengarah pada sinergi. Mereka akan berada pada mode yang sama untuk meraih apa yang mereka sepakati. Misalnya, pemimpin mengenalkan kebijakan baru. Bawahan lantas memandang itu secara positif. Karena percaya pada pemimpin, mereka yakin kebijakan tersebut adalah untuk kepentingan mereka. Demikian juga, kepercayaan yang kuat akan mempermudah organisasi untuk mencapai visi yang baru saja diluncurkan. Honesty Kejujuran berkonotasi dengan orisinalitas, keterusterangan, integritas, ketulusan dan bebas dari berbohong, menipu, atau mencuri. Itu melandasi kepercayaan. Dengan kata lain, tanpa kejujuran, tidak akan ada kepercayaan antara pimpinan dengan bawahan. Kejujuran penting untuk menciptakan lingkungan di mana bawahan dan atasan dapat memberikan umpan balik yang konstruktif. Mereka dapat mendiskusikan isu-isu penting secara terbuka. Dalam kasus lain, misalnya, pemimpin bersedia menerima kritik dari bawahan ketika mereka jujur tentang kesalahan yang dibuat. Bawahan jujur tentang itu karena bukan untuk membuat pimpinan malu tapi mereka melihat efeknya terhadap organisasi . Budaya jujur harus dibangun di dalam organisasi. Organisasi pembelajar bersandar pada itu untuk terus menerus memperbaiki diri. Tanpa kejujuran, orang-orang akan lebih suka menyembunyikan kesalahan mereka. Dan itu bisa berbahaya bagi organisasi karena tidak akan ada upaya intropeksi diri dan belajar dari kesalahan. Equality Kesetaraan berarti memperlakukan sesuatu secara setara, terutama menyangkut hak, status dan kesempatan. Pemimpin memperlakukan setiap bawahan sesuai dengan norma dan konsisten antar individu. Dan mereka menawarkan kesempatan tanpa pilih kasih atau mempertimbangkan perbedaan dalam latar belakang, gender atau posisi mereka. Prinsip ini penting untuk membangun kepercayaan dan rasa penghargaan. Ketika pemimpin menghargai setiap bawahan secara setara dan memperlakukan mereka dengan adil, itu menghasilkan moral yang kuat diantara mereka. Mereka akan percaya diri dan antusias karena dihargai oleh pemimpin. Respect Prinsip ini adalah tentang mengagumi atas kemampuan, kualitas, atau prestasi seseorang. Misalnya, dalam sebuah kasus sederhana, anda menerima kritik tajam dari seorang bawahan. Dan anda tidak suka dengan itu. Tapi, anda tetap menaruh rasa hormat kepada dia karena, misalnya, kejujuran atau kontribusi dia kepada perusahaan. Jadi, rasa hormat membutuhkan anda tidak memandang hanya sebuah keburukan bawahan dan mengabaikan banyak kebaikan mereka. Para pemimpin hebat dihormati oleh bawahan. Tapi, mereka tidak gila hormat. Mereka membangun itu dalam waktu yang lama dan dengan upaya yang keras. Ketika bawahan menghormati mereka, bawahan bersedia untuk bekerja lebih keras untuk mencapai tujuan bersama yang mereka. Bacaan Selanjutnya Gaya Kepemimpinan Apa Itu? Apa Saja Jenisnya?Kepemimpinan Demokratis Definisi, Ciri, Pro, KontraKepemimpinan Etis Pentingnya dan Prinsip-PrinsipnyaKepemimpinan Karismatik Definisi, Contoh, Karakteristik, Pro, KontraKepemimpinan Laissez-Faire Karakteristik, Kelebihan, KekuranganKepemimpinan Otokratis Definisi, Karakteristik, Contoh, Pro, KontraKepemimpinan Otoriter Karakteristik, Pro dan KontraKepemimpinan Paternalistik Karakteristik, Keunggulan, KelemahanKepemimpinan Pelayan Definisi, KarakteristikKepemimpinan Situasional Cara Kerja, Tipe, Pro, KontraKepemimpinan Transaksional Contoh, Karakteristik, Pro, KontraKepemimpinan Transformasional Karakteristik, Mengapa PentingKepemimpinan Karakteristik dan Jenis Gaya KepemimpinanPemimpin Informal Pentingnya Mereka, Cara Menjadi Pemimpin Strategis Karakteristik dan Mengapa Penting
berikut prinsip prinsip yang harus dipegang dalam sebuah tim kecuali